3 Bukti Pandemik Mengistirahatkan Bumi

0

Tidak bisa disangkal bahwa pandemik kali ini adalah peristiwa terburuk yang pernah di alami dunia secara global, mungkin akan menjadi yang terburuk setelah perang dunia. Walau bukan tentang kematian akan wabah yang membuat bencana ini tampak mengerikan dibanding dengan bencana lain namun juga efek sosial ekonomi yang siap menghantui secara global.

Bursa saham runtuh, kegiatan ekonomi terhenti, pasar ditutup, perjalanan domestik dan internasional tertunda, proyek-proyek yang terencana mangkrak hingga waktu yang belum bisa diprediksi dan banyak kegiatan sosial ekonomi lain terganggu, begitupun bisnis dalam bidang olahraga, liga-liga dunia, bahkan olimpiade musim panas di Jepang terancam gagal.

Namun dari sederet permasalahan itu ternyata ada sisi lain yang kita bisa menaruh harapan, atau setidaknya kita bisa merasakan sedikit harapan akan kesehatan bumi tempat kita hidup.

Ribuan tahun bumi dieksplorasi, dimanfaatkan namun sekaligus dikotori, dicemari bahkan perusakan, tiba-tiba kita bumi seolah-olah sedikit bisa bernafas lega. Di berbagai sudut dunia dilaporkan tentang beberapa bukti ini, dan panasaran.com mencoba merangkumnya untuk Anda

Polusi udara membuat pandemi lebih mematikan, tapi pandemi juga membersihkan udara

Dilansir dari nationalgeographic.com, ternyata udara kotor sangat berpengaruh terhadap daya rusak viruscorona. Dari sebuah penelitian, yang masih harus menjalani peer review untuk publikasi, ditemukan bahwa partikel polutan kecil yang dikenal sebagai PM2.5, yang kita bernapas dengannya selama bertahun-tahun, meningkatkan kemungkinan kematian akibat virus.

Para peneliti dari T.H. Chan School of Public Health menganalisis data pada tingkat PM2.5 dan kematian COVID-19 dari sekitar 3.000 negara bagian AS yang mencakup 98 persen populasi AS. Negara-negara bagian yang udaranya memiliki rata-rata hanya satu mikrogram per meter kubik lebih banyak PM2.5 di udara memiliki tingkat kematian COVID-19 yang 15 persen lebih tinggi.

Itu karena partikel halus menembus jauh ke dalam tubuh, meningkatkan tekanan darah tinggi, penyakit jantung, gangguan pernapasan, dan diabetes, yang semuanya meningkatkan komplikasi pada pasien coronavirus.

Dan kini dibeberapa kota di dunia dikabarkan udara di daerah mereka menjadi bersih. Pandangannya yang biasanya terhambat oleh debu dan polusi kita tampak jernih dan memukau. Berikut foto-fotonya

Pemandangan Los Angeles dari Griffith Park, 21 Maret 2020. Bersih dan Jernih sejauh mata memandang
Lalu lintas telah jauh berkurang di jalanan New York (credit image: bbc/Getty)
Pemandangan Katedral St. Patrick di Fifth Avenue mulai hari Rabu ketika coronavirus terus menyebar di seluruh Amerika Serikat. Kota ini telah mengosongkan orang setelah aturan untuk tetap di rumah
Kawasan Senayan, Jakarta Selatan pada awal April 2020 yang sepi dan lengang membuat udara menjadi bersih. Foto : Andreas Harsono
Kota Bogor, Jabar pada awal April 2020 yang sepi dan lengang karena pembatasan sosial saat pandemi COVID-19. Foto : Anton Wisuda/Mongabay Indonesia
Pusat kota Jakarta yang terlihat sepi (Kanan) dan Langit Jakarta yang terlihat bersih (Kiri) – Kolase TribunStyle. Twitter @renjunskies & @incitu

Pandemi membuat banyak Pabrik Penghasil Polutan berhenti Operasi

Para ilmuwan mengatakan bahwa Lockdown dibeberapa kota telah secara dramatis meningkatkan kualitas udara.  

Di seluruh dunia, langkah-langkah yang diterapkan untuk membatasi interaksi publik termasuk menutup beberapa usaha, membatalkan acara dan mendorong orang-orang untuk tetap di rumah.

Gambar satelit dari Badan Antariksa Eropa dan NASA  menunjukkan pengurangan dramatis dalam jumlah emisi gas rumah kaca yang berbahaya di atmosfer.

Peta ini menunjukkan tingkat polusi udara Inggris hari ini sebagaimana dicatat oleh Defra. 
Daerah hijau terang memiliki polusi udara ‘sangat rendah’ ​​dan daerah hijau gelap adalah polusi udara ‘rendah’.  (Dailymail.co.uk)

Air di Venesia, kanal-kanal Italia mengalir jernih

Pandemi COVID-19 telah melumpuhkan Italia dan menyebar di seluruh dunia. Namun di tengah ketakutan dan penyakit, karantina di seluruh negeri Italia setidaknya memiliki satu konsekuensi yang menggembirakan: saluran air Venesia yang biasanya gelap dan keruh telah berubah menjadi lebih jelas. 

“Air sekarang terlihat lebih jernih karena ada sedikit lalu lintas di kanal, memungkinkan sedimen tetap di dasar,” kata juru bicara kantor walikota Venice kepada CNN .

Lihatlah kanal-kanal yang kosong dan air jernih.

Apakah ini hanya Sementara?

Di satu sisi kita cukup punya harapan bahwa dunia ternyata bisa bersih tapi di sisi lain adalah pertanyaan besar: “Sampai Kapan?

Kualitas udara yang bersih jika hanya “untuk sementara” adalah harga yang sangat mahal jika dibandingkan dengan harga jiwa yang melayang karena pandemi, ekonomi yang melemah dan kehidupan sosial yang berubah.

Allâh Jalla Jalaluhu berfirman :

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan akibat perbuatan tangan (maksiat) manusia, supaya Allâh merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” [ar-Rûm/30:41]

Mungkin bencana diturunkan oleh Sang Pencipta agar kita terhenyak sadar bahwa selama ini kita sudah banyak merusak alam dan kufur nikmat akan alam yang diamanahkan.

Dan jika kita belum sadar? Berharaplah Allah tidak memberikan sesuatu yang lebih dahsyat dibanding pandemi ini. Na’udzubillah Sumber: 1,2,3,4,5)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here