Ingin Harga Hewan Qurban Selalu Stabil? Pakai cara ini!

0

Tiga tahun lalu, seekor kambing Qurban yang berharga 2,8 juta sudah merupakan kambing super yang memiliki bobot yang bagus. Namun kini, uang senilai tersebut hanya mendapat kambing biasa yang kecil. Dan kambing yang seperti 3 tahun lalu kini berharga di kisaran 3,3 juta hingga 3,5 juta lebih.

Dan uniknya, seekor kambing di zaman Rasulullah ﷺ yang dibeli dengan mata uang saat itu, saat ini masih memiliki nilai yang hampir tidak jauh berbeda dengan mata uang yang sama. Mengapa ini bisa terjadi

Hal di atas membuktikan bahwa mata uang di zaman Rasulullah ﷺ memiliki nilai yang relatif stabil dibanding mata uang yang berlaku saat ini.

Bukti Stabilitas Dinar (Emas) dan Dirham (Perak) dari Al-Qur’an dan Al- Hadits

Dalam sebuah Hadits dikisahkan:

”Ali bin Abdullah menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, Syahib bin Gharqadah menceritakan kepada kami, ia berkata : saya mendengar penduduk bercerita tentang ’Urwah, bahwa Nabi ﷺ memberikan uang satu Dinar kepadanya agar dibelikan seekor kambing untuk beliau; lalu dengan uang tersebut ia membeli dua ekor kambing, kemudian ia jual satu ekor dengan harga satu Dinar. Ia pulang membawa satu Dinar dan satu ekor kambing. Nabi ﷺ. mendoakannya dengan keberkatan dalam jual belinya. Seandainya ‘Urwah membeli debupun, ia pasti beruntung” (H.R.Bukhari)

Dari hadits tersebut kita bisa tahu bahwa harga pasaran kambing yang wajar di zaman Rasulullah ﷺ adalah satu Dinar. Kesimpulan ini diambil dari fakta bahwa Rasulullah ﷺ adalah orang yang sangat adil, tentu beliau tidak akan menyuruh ‘Urwah membeli kambing dengan uang yang kurang atau berlebihan.

Fakta kedua adalah ketika ‘Urwah menjual salah satu kambing yang dibelinya, ia pun menjual dengan harga satu Dinar. Memang sebelumnya ‘Urwah berhasil membeli dua kambing dengan harga satu Dinar, ini karena kepandaian beliau berdagang sehingga ia dalam hadits tersebut didoakan secara khusus oleh Rasulullah, ﷺ. Diriwayat lain ada yang mengungkapkan harga kambing sampai 2 Dinar, hal ini mungkin-mungkin saja karena di pasar kambing manapun selalu ada kambing yang kecil, sedang dan besar.

Contoh hewan Qurban

Nah kalau kita anggap harga kambing yang sedang adalah satu Dinar, yang kecil setengah Dinar dan yang besar dua Dinar pada zaman Rasulullah SAW maka sekarangpun dengan ½ sampai 2 Dinar (1 Dinar pada saat artikel ini ditulis = Rp 3.350.530) kita bisa membeli kambing dimanapun di seluruh dunia – artinya setelah lebih dari 14 abad daya beli Dinar tetap.

Coba bandingkan dengan Rupiah kita. Pada waktu awal 70-an harga kambing saat itu berkisar Rp 8,000. Nah sekarang setelah 50 tahun apakah kita bisa membeli kambing yang terkecil sekalipunpun dengan Rp 8,000 ? tentu tidak. Bahkan ayam-pun tidak bisa dibeli dengan harga Rp 8,000 !.

Nilai Dinar dan Dirham

Dinar dan Dirham dikenal sebagai alat perdagangan resmi yang paling stabil dan sesuai syariah sejak berabad-abad lamanya. Namun kini disaat alat bayar resmi terutama di Indonesia adalah uang kertas dan logam (berikut uang digital yang memiliki nilai sama), dinar dan dirham hanya menjadi alat investasi atau tabungan atau mahar.

Dinar emas berdasarkan Hukum Syari’ah Islam adalah uang emas murni yang memiliki berat 1 mitsqal atau setara dengan 1/7 troy ounce, sedangkan Dirham perak Islam berdasarkan ketentuan Open Mithqal Standard (OMS) memiliki kadar perak murni dengan berat 1/10 troy ounce, atau setara dengan 3,11 gram. Dengan demikian, dinar emas memiliki berat 4,45 gram. World Islamic Mint (WIM), mengikuti pendapat Syaikh Yusuf Qardhawi, menetapkan 1 dinar memiliki berat 4,25 gram. Ketentuan berat 1 dinar = 4,25 gram ini diikuti oleh beberapa pihak seperti Kerajaan Kelantan di Malaysia, Wakala Induk Nusantara di Indonesia, dan Gerai Dinar di Indonesia.

Dari data bulan Juni 2020, satu keping dinar yang merupakan kepingan emas murni yang memiliki berat 4,25 gram, bernilai Rp 3.350.530, naik dari harga tahun kemarin di bulan yang sama yang berkisar 2,3 jutaan.

Jenis Koin Dinar yang kini banyak beredar yang menjadi alat investasi, diantaranya:

  • Dinar Dubai, dicetak oleh Uni Emirat Arab dengan desain Masjid Nabawi di Madinah, sedangkan koin dirham menggunakan desain Masjidil Haram di Mekah.
  • Dinar Kelantan, dicetak dengan desain simbol wilayah bagian Kelantan, Malaysia. Dinar dan dirham sudah menjadi mata uang resmi di wilayah ini, selain ringgit.
  • Dinar Wakala Induk Nusantara, hadir dalam dua seri, yaitu seri haji dan seri nusantara. Untuk seri haji, mirip dengan dinar yang dicetak di Dubai. Selain itu, Wakala Induk Nusantara juga mengedarkan koin dari Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Ternate.
  • Dinar IMN, dicetak pertama kali di Indonesia pada tahun 2000. Pada tahun 2010, IMN mengeluarkan hasil penelitian sejarah, fikih, dan timbangan mitsqal yang diikuti dengan Fatwa Atas Berat dan Kadar Untuk Dinar dan Dirham. Dinar dan dirham dinyatakan murni, 1 mistqal adalah 4.44 gram (1/7 troy ounce) dan 1 dirham adalah 3.11 gram (1/10 troy ounce).

Sedang Dirham adalah alat tukar yang berupa perak. namun saat ini dikonversikan dengan emas dengan nilai lebih kecil dari Dinar namun dengan perbandingan yang sama saat berlaku di zaman Rasululah.

Perbandingan itu salah satunya memakai standar yang ditetapkan Umar bin Khattab, radhiallahu ‘anh: “7 dinar harus setara dengan 10 dirham.”

Hikmah

Terbukti bahwa nilai tukar uang yang ditetapkan syari’ah sebenarnya sangat stabil dan adil. Nilai tukar ini tidak akan menyebabkan terjadinya inflasi atau penurunan nilai mata uang.

Masih berhubungan dengan hewan qurban, karena sistem nilai tukar saat ini menggunakan mata uang konvensional, maka untuk menyiasati ini dapat kita lakukan dengan menabung dalam bentuk emas agar kita dapat membeli hewan qurban dengan nilai yang sama setiap tahunnya. Allahu a’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here