Ini 5 Alasan Gelombang Kedua Covid 19 Patut diwaspadai

0
Ilustrasi Gelombang pandemik

Dunia medis mencatat dalam sejarahnya beberapa kasus wabah yang menyerang secara bergelombang, apalagi wabah yang berhubungan dengan pernapasan, semuanya mempunyai rekam jejak datang berulang.

Pandemik penyakit pernapasan cenderung datang dalam gelombang, dan pandemi flu 1918 sering dijadikan sebagai contoh. Setelah gelombang pertama yang relatif ringan, di musim semi belahan bumi utara tahun itu, penyakit itu sempat secara bertahap surut sebelum kembali dengan kekuatan baru dari bagian akhir Agustus. 

Ini adalah gelombang kedua yang jauh lebih mematikan, yang menyumbang sebagian besar dari 50 juta kematian yang diperkirakan dalam pandemi itu. Ada gelombang ketiga, pada bulan-bulan awal 1919, yang merupakan tingkat dengan keparahan sedang antara dua sebelumnya.

Dalam kasus pandemik Covid-19, di beberapa negara, termasuk China telah diberitakan mengalami penurunan kasus yang cukup mengembirakan, walau di beberapa negara justru terjadi peningkatan. Namun ahli memperingatkan bahwa kondisi penururan kasus ini bukan berarti bahwa kita menghilangkan kewaspadaan, karena dalam 5 kasus wabah virus yang menyerang pernapasan, mereka selalu datang bergelombang.

Berikut ini 4 alasan mengapa kita harus waspada dengan Gelombang kedua Pandemik

1. Karantina yang dilonggarkan

Beberapa negara mulai mengangkat status lockdown beberapa wilayah di negaranya, beberapa dengan alasan telah turunnya secara signifikan kasus penyebaran virus, beberapa lagi melonggarkan dengan dalih menghidupkan kembali ekonomi masyarakat.

Hal ini akan memancing kembali terjadinya kerumunan dan kontak sosial yang sangat berpotensi terjadi kembali pemularan, karena sesungguhnya virus ini belum betul-betul hilang karena tidak semua orang melakukan pemeriksaan diri atau tes covid-19 karena merasa dirinya sehat.

2. Virus yang bermutasi

Para ahli mengklaim virus corona Covid-19 tidak mungkin diberantas dan bisa kembali setiap tahunnya seperti flu musiman karena kemampuannya bermutasi. Juga ada pernyataan resmi dari WHO bahwa belum dinyatakan secara pasti secara ilmiah bahwa orang yang pernah terinfeksi virus covid 19 tidak akan terkena lagi untuk kedua kali.

Beberapa waktu lalu, para ilmuwan China dari Zhejiang University menemukan mutasi virus corona pada sekelompok kecil pasien yang sebelumnya tidak dilaporkan. Mutasi ini termasuk perubahan yang sangat langka dan tidak pernah diprediksi oleh para ilmuwan sekalipun. Para peneliti juga membuktikan bahwa mutasi tertentu dari virus SARS-CoV-2 penyebab penyakit Covid-19 dapat menciptakan jenis yang lebih mematikan dari jenis lainnya.

Sebuah studi menemukan virus corona Covid-19 telah bermutasi menjadi 10 jenis penyakit mematikan di seluruh dunia. Para peneliti menemukan ada 11 jenis mutasi virus corona Covid-19, Tipe O, salah satu jenis mutasi virus corona Covid-19 yang dianggap paling leluhur dan berasal dari Wuhan, China.

3. Beberapa negara memasuki musim dingin

Beberapa negara di bagian utara dunia beberapa saat lagi akan memasuki musim dingin. Musim dingin disana identik dengan musim flu. Kondisi ini menimbulkan kekhwatiran akan serangan gelombang kedua bagi negara-negara yang memasuki musim dingin.

Di Amerika sendiri setiap tahun terjadi kematian karena musim flu ini. Dan jika saat ini ditambah dengan pandemik covid 19 maka memasuki musim dingin akan menjadi saat yang rentan orang-orang terinfeksi virus dan akan membuat sistem perawatan kesehatan bangsa ini mungkin akan lebih kewalahan dan kekurangan suplai dibandingkan dengan sebelumnya.

4. Perjalanan antar negara kembali dibuka

Jika negara tidak membuat pengetatan tentang kedatangan turis asing walau izin penerbangan antar negara telah dibuka, bukan tidak mungkin kembali terjadi penularan virus yang dibawa dari negara asal.

Perjalanan antar negara terbukti membuat virus covid 19 menjadi pandemik dunia. Kelalaian di awal wabah dalam membatasi kedatang orang-orang dari perjalanan dari China membuat virus ini terimpor dengan “sukarela”

Vietnam, yang melakukan pengetatan penanganan terhadap turis yang masuk, yang mana mereka diwajibkan untuk menjalani karantina selama 14 hari di tempat tertentu, terbukti efektif menutup pintu penularan dari negara lain.

5. Belum ditemukan Vaksin yang paten

Hingga saat ini belum ditemukan vaksin anti virus covid 19 yang sudah terbukti secara klinis efektif menyembuhkan pasien terinfeksi. Ketiadaan anti virus ini dikhawatirkan membuat belum ada jaminan suatu daerah pendemik terbebas dari penularan.

WHO memberi perkiraan bahwa anti virus baru akan tersedia secara masal dan teruji pada tahun 2021, sambil menanti hal tersebut maka diharapkan protokol kesehatan dapat dijalankan secara individual bagi setiap orang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here