Kota Madinah dijaga Malaikat, tapi wabah Covid 19 masih masuk. Ini penjelasannya

0
Masjid Nabawi di Kota Madina al Munawaroh

Ada pertanyaan beberapa orang tentang sebuah hadits betapa Allah menjaga Madinah dari wabah tho’un dan dajjal, namun tidak sedikit sejarah mencatat beberapa kali wabah masuk kota Madinah.

Salah satu hadits yang menceritakan hal penjagaan tersebut adalah:

 “Dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda: “Di setiap gerbang masuk Madinah akan ada Malaikat yang menjaga masuknya (wabah) Tho’un dan Dajjal.” (Bukhari [1880]; Muslim [1374]).

Namun beberapa sejarah mencatat beberapa kali wabah masuk ke kota Madinah seperti pada masa pemerintahan Khalifah Umar Bin Khattab, sebagaimana diriwayatkan hadits berikut. Dari Abu al-Aswad ia berkata: “Aku tiba di Kota Madinah, di sana sedang terdapat penyakit, banyak penduduknya yang mati mendadak, kemudian aku duduk menemui Umar.” (Bukhari: [2643]).

Dan saat ini pun di Kota Madinah ditutup karena beberapa orang sudah terinfeksi virus Covid 19. Bagaimana memahami ini?

Istilah Waba’ dan Tho’un

Untuk memahami ini maka harus dipahami apakah wabah (waba) yang kita pergunakan saat ini untuk menyebut sebuah penularan suatu penyakit secara cepat seperti covid 19 adalah sama dengan tho’un sebagaimana hadits Rasulullah di atas. Jika berbeda maka tidak diperlukan lagi penjelasan karena bukan tho’un yang masuk Madinah.

Pemakaian kata “tho’un” dan “waba’” sering disamakan untuk menyebut wabah atau penyakit menular yang berjangkit dengan cepat, menyerang sejumlah besar orang di daerah yang luas (misalnya wabah cacar, disentri, pes, kolera). Padahal Rasulullah pernah menyebut 3 kata yang digambarkan sebagai wabah saat ini yaitu: “jārif,” “waba’,” dan “tha’un”.

Kata “waba’” dan “tho’un” ini yang kemudian sering disematkan oleh ahli agama untuk Covid-19 atau virus corona yang terjadi pada awal 2020 di Indonesia dan berbagai negara di dunia. Sedangkan untuk kata “jarif” sendiri, kita jarang mendengarnya dari mereka.

Apa itu Wabah (waba’)

Pengertian istilah medis akan terus berubah sebagaimana kemajuan dan penelitian medis yang terus dilakukan. Oleh karena itu definisi medis modern dari suatu penyakit yang bersifat epidemi atau pendemi saat ini tidak bisa disamakan dengan penggunaan historis dari istilah ‘waba‘ yang tidak membedakan patogen spesifik tetapi lebih menerapkannya pada berbagai epidemi infeksi.

Saat dulu orang belum bisa membedakan jenis pandemi/epidemi berdasarkan penyebabnya. Wabah digunakan secara umum untuk menyebut suatu penyakit yang menyebar secara cepat dan membawa kematian.

Apa itu  ṭho’un?

Namun beberapa ulama Islam dahulu sudah berpendapat bahwa tidak semua wabah adalah sama. Mereka dibedakan secara khusus berdasarkan penyebabnya dan gejalanya.

Seperti Imam Al Hafizh Ibnu Hajar al Asqolani yang membantah pendapat bahwa pada tahun 749 H Mekah dan Madinah pernah terkena wabah tho’un. Beliau mengatakan bahwa di tahun tersebut yang menimpa Makkah bukanlah Tho’un, melainkan wabah lain yang tidak berbahaya sebagaimana Tho’un.

Imam Nawawi membuat pegertian lebih spesifik lagi. Menurut An-Nawawi, kata “tho’un” lebih khusus, sempit, atau spesifik dibandingkan kata “waba’.” Tho’un adalah luka bernanah yang muncul pada siku, ketiak, tangan, jari, atau sekujur badan. Luka yang muncul disertai dengan memar, rasa pedih dan nyeri. Luka ini muncul bersama dengan rasa panas. Sekitar luka kulit menghitam, memerah, menghijau, dan memerah agak ungu. Gejala lainnya adalah peningkatan detak jantung dan muntah-muntah. (An-Nawawi, 2001 M/1422 H: VII/466).

Kata Arab  ṭhoʿun (sering diterjemahkan sebagai wabah) berasal dari  ṭhoʿana, yang salah satu artinya berarti untuk menembus, mungkin merupakan kiasan terhadap rasa sakit yang luar biasa dari penyakit ini. 

Dalam tulisan-tulisan dokter Arab dan Persia di dunia kedokteran Islam dahulu, termasuk al-Razī (w. 311 H), al-Majusi (w. 384 H), dan Ibn Sīna (w. 428 H), istilah ini adalah diidentifikasi dengan pembengkakan kelenjar getah bening, karakteristik dari kelenjar getah bening yang bengkak dan meradang di ketiak atau selangkangan.  

Lukisan yang menggambarkan Wabah Justinian

Upaya juga dilakukan untuk menyimpulkan arti  thoʿun langsung dari literatur Hadits. Dalam satu hadits,   ṭhoʿun dibandingkan dengan  ghuddah unta/gondok/kelenjar getah bening (Musnad Aḥmad)  yaitu, penyakit mematikan yang ditandai dengan pembengkakan kelenjar getah bening.  

Dalam hadits lain, kita mengetahui bahwa luka-luka orang yang mati karena  ṭhoʿun  akan menyerupai luka para syahid dan akan berbau wewangian musk ( Musnad Aḥmad, no. 17651 )

Ibn al-Qayyim (wafat 751 H) menulis bahwa istilah   ṭhoʿun dapat merujuk pada penyebab aktif wabah, gejala yang terkait dengannya, atau akibat kematian.  Istilah terkait adalah  waba’ , yang secara linguistik merujuk pada epidemi umum.  Di  Muwaṭṭaʿ , wabah Emmaus digambarkan sebagai  wabaʾ . 

Karena itu setiap  ṭhoʿun adalah  wabaʾ atau wabah  tetapi tidak setiap wabah adalah tho’un.

setiap ṭhoʿon  adalah  wabāʾ  tetapi tidak setiap wabah adalah tho’un.

 Apakah Covid 19 adalah tho’un?

COVID-19 adalah nama penyakit yang disebabkan oleh novel coronavirus yang secara resmi disebut sebagai SARS-CoV-2 (sebelumnya disebut 2019-nCoV). Infeksi virus melibatkan paru-paru, dengan pneumonia menjadi manifestasi klinis yang paling sering,  meskipun sejumlah besar individu yang terinfeksi dengan gejala ringan atau tanpa gejala yang dapat mengakibatkan kecepatan penularan penyakit. 

Ilustrasi corona yang menginfeksi dunia

Komplikasi paling serius dari infeksi SARS-CoV-2 adalah apa yang disebut sindrom pernafasan akut yang parah, Yang memerlukan akumulasi cairan yang cepat di paru-paru sebagai akibat dari peradangan. Sementara gejala lain seperti infeksi pernafasan virus lainnya yang memiliki gejala klinis yang sama (demam, batuk, kelelahan) Ada fitur lain yang membedakan SARS-CoV-2. Misalnya, COVID-19 berbeda dari influenza karena sifatnya yang jauh lebih menular dan lebih mungkin mengakibatkan rawat inap dan kematian. 

Berarti jelas berdasarkan gejala dan penyababnya Covid 19 bukanlah tho’un. Tho’un adalah kelenjar getah bening yang bengkak dan meradang di ketiak atau selangkangan. Dead ratenya jauh lebih besar dibanding Covid 19. Sebagai gambaran saat tho’un menjadi pandemik dulu membawa kematian puluhan juta hingga ratusan juta penduduk bumi.

Kesimpulan

Kota Madinah adalah tempat yang sakral dan dihormati oleh umat Islam. Kota ini adalah pusat hijrah bersejarah dan tempat peristirahatan terakhir Nabi kita tercinta ﷺ. Nabi ﷺ memuji dan memohon kepada Allah untuk Madinah pada banyak kesempatan. Dia menubuatkan bahwa iman pada akhirnya akan kembali ke Madinah, dan meminta kepada Allah untuk memberikan berkah-Nya pada kota ini dan ketentuan-ketentuannya. 

Maka tidak ada yang salah dengan hadits Rasulullah . Tho’un menunjukkan bahwa ini mengacu pada penyakit spesifik yang dijelaskan sebelumnya dan ia tidak akan memasuki Madinah sebagaimana Dajjal. Karenanya, kasus COVID-19 di Madinah tidak merusak hadits ini.

Bukti bahwa tho’un tidak dapat memasuki Madinah sudah dikabarkan oleh banyak ahli sejarah.

Salah satunya, pada  abad 19, para pelancong Eropa takjub melihat betapa wabah tho’un tidak pernah mencapai Madinah. Orientalis Swiss, Johann Burckhardt (1817 M) mengamati bahwa pada tahun 1815 M terjadi wabah di Hijaz. Meskipun menyebar ke Mekah, tapi kota Madinah tetap tidak tersentuh.

Allahu a’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here