Masjid Qurtuba, Peninggalan Masa Kejayaan Islam yang Dirubah Menjadi Gereja

0
MOsque Cathedral of Cordoba (Ron Gatepan, Britannica Publishing Partner)

Peristiwa Hagia Sofia berkonversi lagi menjadi masjid menimbulkan berbagai kontroversi. Sebagian umat Islam bergembira dan memandang ini sebagai sebuah kebangkitan Islam, walau ada beberapa juga yang menyayangkan berdalil agar komunikasi antar agama tidak menjadi rusak, berharap bangunan ini tetap menjadi museum.

Salah satu yang berpendapat demikian dan pendapatnya tersebar di jejaring sosial yaitu Ustadz Syamsi Ali, Imam Masjid besar di Amerika. Pendapat Beliau sangat logis dan berterima. Salah satu dalil kuatnya adalah larangan menganggu tempat ibadah agama lain saat perang (al Hajj 40).

Sedangkan di sisi yang mendukung pengkonversian kembali Hagia Sofia menjadi masjid berdalih dengan fakta sejarah, bahwa saat penaklukan Konstantinopel oleh Muhammad Fatih, keadaan Hagia Sofia saat itu sangat bobrok. Ini dijelaskan oleh bangsawan Barat seperti bangsawan Cordoba, Pero Tafur dan Florentine Cristoforo Buondelmonti. Sultan Fatih, yang melihat Hagia Sofia sebagai peninggalan besar peradaban, ingin menjaganya, namun jika tetap menjadi gereja mungkin akan terus bobrok maka dibelinya dengan uangnya sendiri dan dirubah menjadi masjid dengan tidak menghilangkan jejak sejarah berupa ornamen-ornamen, relief-relief dan Mozaik. Beberapa yang menganggu dalam kekhusu’an ibadah hanya ditutupinya tanpa merusaknya. Demikian kepedulian pemimpin yang adil.

Penaklukan Konstantinopel Dinubuwwahkan oleh Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassalam.

Dalil lainnya, yaitu bahwa penaklukan oleh Sultan Fatih ada nubuwwah Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam. Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash berkata, Saat kami sedang menulis di sekeliling Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam, tiba-tiba beliau ditanya tentang kota manakah dari kedua kota yang akan dibebaskan terlebih dahulu, Konstantinopel atau Roma? Maka, Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam menjawab, “Kota Heraclius akan dibebaskan terlebih dahulu.” Maksudnya adalah Konstantinopel. (HR Ahmad)

Dalam sebuah kesempatan yang lain, Rasulullah bersabda, “Konstantinopel benar-benar akan ditaklukkan. Sebaik-baik amir (khalifah) adalah amir (khalifah) yang memimpin penaklukkannya dan sebaik-baik tentara adalah tentara yang menaklukkannya.” (HR Bukhari, Ahmad, dan Al-Hakim).

JIka Nabi menubuwwahkan bahwa amir penaklukan Konstantinopel adalah sebaik-baik Amir maka akan sangat kontradiksi jika amir yang dimaksud melanggar larangan Al Quran dengan merubah gereja menjadi masjid hanya dengan dalih “kekuasaan dan paksaan”, pasti dengan alasan yang dibenarkan sebagaimana ditulis di atas.

Hagia Sophia tetap bisa Dikunjungi sebagian Warisan Budaya oleh Semua Orang

Tentu kita tidak ingin pengkonversian ini menyebabkan kerenggangan komunikasi antar agama. Dan kita berharap kebesarhatian saudara-saudara kita dari Kristen Ortodok dan Katolik memahami keinginan masyarakat Turki.

Madjid Hagia Sophia

Jika yang dikhawatirkan bahwa Hagia Sofia kini hanya menjadi milik umat Islam, sepertinya kirang tepat. Dilansir dari beberapa media di Turki, fungsi Hagia Sofia sebagai warisan peradaban dunia akan tetap terjaga. Dan seluruh umat manusia bisa tetap berkunjung tanpa dibatasi agama.

Hal ini juga dilakukan di peninggalan masjid di Spanyol yang kemudian dikonversi sebagai katedral dan tetap menjadi warisan peradaban dunia.

Masjid Qurtuba, Peninggalan Masa Kejayaan Islam yang Dirubah Menjadi Gereja

Bukan hanya Hagia Sofia, sebuah karya besar peradaban, yang berubah fungsi peruntukan peribadatannya. Umat Muslim pun memiliki karya besar berupa masjid yang dialihkan fungsi menjadi gereja.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here