Muslimah harus baca! Sangat Inspiratif dan mengagumkan! Kisah Seorang Pejuang Jilbab Turki

0

Sejak dipimpin oleh Kemal Attaturk, negara Turki menjadi sebuah negara sekuler mutlak. Tidak boleh identitas agama (Islam) dipertontonkan di muka umum, jika tidak maka harus siap menerima hukuman dan hujatan. Hal itu tidak menyurutkan seorang wanita sekuler yang kemudian bertobat dalam memperjuangkan da’wah tentang hijab. Walau harus dipenjara dan menjadi musuh negara.

Dialah Ibunda Şule Yüksel Şenler, dia dituntut, didakwa, dan dipenjara … tapi itu tidak menghentikannya.

Lahir dari Keluarga Sekuler

Ia dilahirkan pada tahun 1938 di Kayseri, Turki tengah, dari keluarga yang relatif sekuler, yang kemudian menetap di Istanbul. Şenler keluar dari sekolah dan harus bekerja ketika keluarganya bangkrut dan ibunya sakit. Dia bekerja sebagai asisten penjahit Armenia setelah meninggalkan sekolah menengah, sebuah pengalaman yang di kemudian hari mengarahkannya menjadi pendesain jilbab.

Dia harus putus sekolah saat di kelas 8, namun bakatnya menulis membuat dia menekuni profesi menulis dan sempat menjadi Jurnali. Saat usia 14 tahun ia memakai tambahan nama Şule, untuk menegaskan bahwa dia wanita karena nama Yüksel adalah nama unisex (nama yang biasa dipakai laki-laki dan perempuan.

Keluarganya mengadopsi gaya hidup sekuler kecuali saudaranya, Özer, yang adalah pengikut Said Nursi, seorang ulama yang memainkan peran penting dalam kebangkitan Islam di Turki. 

Mulai tertarik dengan Ceramah Said Nursi

Di usia 20-an, dia menjadi jurnalis di surat kabar Kadin (wanita). Walau cukup konservativ, tapi dia bukanlah perempuan yang taat dalam beragama. Namun kekagumannya kepada saudaranya, Özer, dia mulai belajar gaya hidup baru. Saran kakaknya untuk membaca “Risale,” (Risalah) sebuah buku populer oleh ulama terkemuka Said Nursi, berhasil mengubah hidupnya.

Dia mulai menghadiri pertemuan para pengikut Nursi, tetapi masih tidak tertarik dengan jilbab. Dia berhasil menjadi aktifis dari gerakan itu namun belum tertarik untuk mengenakan jilbab. Pemikiran masyarakat yang sekularisme masih sedikit membuatnya terpengaruh, di mana perempuan harus memilih antara jilbab atau sekolah resmi, dan karier profesional.

Ketika ditanya tentang pakaiannya saat dia menghadiri ceramah Said Nursi, dia akan berkata: “Jika kamu tidak menerimaku seperti ini, aku tidak akan datang lagi.”

Mulai memakai Jilbab

Tetapi pada tahun 1965, pada usia 27, seiring dengan tuntasnya ia membaca Risale dan mengikuti kajian Said Nursi, Şenler mulai rajin ibadah dan mulai mengenakan kerudung. 

Hidupnya juga mengambil arah lain pada tahun-tahun itu ketika dia bergabung dengan koran Yeni İstiklal, di mana dia menghadapi rentetan tuntutan hukum untuk artikel-artikelnya. Ia menjadi jurnalis berjilbab pertama di Turki. Sejak saat itu Şenler menggunakan platform barunya itu untuk menulis tentang wanita Muslim dan jilbab.

Şule Yüksel Şenler

Pemikiran Yüksel mempengaruhi wanita Turki

Pandangan wanita-wanita Turki yang sekuler menganggap gerakan Yüksel ini sebagai ancaman. Wanita Turki yang berjilbab akan menghadapi resiko dihujat, dijauhi secara sosial, atau menghadapi resiko lebih buruk lagi. Masalah jilbab akan menghantui wanita Muslim selama beberapa dekade ke depan dan menyebabkan penganiayaan terhadap mereka.

Namun tidak sedikit pemikiran-pemikiran Yüksel berhasil menarik perhatian wanita-wanita Turki. Artikel-artikelnya dan serangkaian konferensi pada 1960-an dan 1970-an membantu membentuk identitas wanita Muslim berpendidikan tinggi yang semakin sering memakai jilbab. 

Begitu besarnya pengaruh pemikiran Yüksel sehingga wanita-wanita yang berjilbab disebut dengan “Şulebaş” (kepala Şule).

Dia memelopori jalan baru bagi perempuan berjilbab dengan pekerjaan jurnalistiknya karena dia adalah salah satu jurnalis mengenakan jilbab pertama di Turki. Di tengah jadwalnya yang sibuk, dia masih punya waktu untuk menerbitkan majalah dengan saudara lelakinya di mana dia mendesain jilbab dan mantel panjang untuk wanita Muslim. Desainnya mendapat perhatian besar di kalangan wanita muda di Anatolia yang membuat semakin banyak yang memakai jilbab di sekolah. Bertahun-tahun kemudian, wanita yang mengenakan jilbab akan dilarang dari universitas oleh elit sekuler negara itu.

Dipenjara

Pada tahun 1967, Persatuan Wanita Turki mengajukan gugatan terhadapnya untuk sebuah artikel di mana dia menulis:

“Ini adalah suatu keharusan bahwa wanita Muslim mengenakan jilbab mereka.”

Selama tahun 60-an dan 70-an ia berkeliling Turki untuk memberikan ceramah dan banyak pengikutnya mulai mengenakan jilbab, tetapi tindakannya tidak luput dari perhatian oleh kekuatan pemerintah dan masyarakat sekuler saat itu.

Saat suatu konferensi di Fakultas Bahasa, Sejarah dan Geografi Ankara, pada tahun 1971, gerakan Yüksel menarik perhatian presiden saat itu, Cevdet Sunay, dan presiden ini mengancam:

“Mereka yang berada di belakang [meningkatnya jumlah] wanita yang berjilbab di jalanan akan dihukum …”

Cevdet Sunay, Presiden Turki yang memenjarakan

Alih-alih merasa gentar, Yüksel Şenler malah menjawab dalam sebuah surat kepada presiden Sunay yang mengatakan bahwa sang presiden “harus meminta maaf kepada Allah dan bangsa.”

Surat perintah dikeluarkan untuk penangkapannya, Yüksel pun dipenjara.

Melarikan diri dari Penjara dan Kembali ke Penjara

Di dalam penjara Yüksel menghadapi intimidasi. Dan ketika dia dirawat di rumah sakit karena sakit, seorang dokter yang bersimpati membantunya melarikan diri.

Dia hidup dalam pelarian dan menjadi buronan polisi, hingga dia menderita sakit lagi dengan TBC, ia sudah tidak sanggup terus dalam pelarian karena kondisi. Ia menyerahkan diri ke polisi dan dijebloskan ke penjara Bursa untuk hukuman 9 bulan. 

Publik Marah!

Yüksel sudah menempati hati para muslim dan muslimah Turki. Kondisinya di penjara dan adanya ketidak adilan membuat kemarahan publik.

Setelah kemarahan publik, Sunay memaafkannya selama dua bulan, tetapi dia menolak amnesti dan bahkan melaksanakan seluruh hukumannya, meskipun kesehatannya buruk.

Terus Berda’wah setelah bebas

Setelah pembebasannya, penderitaan dan intimidasi di penjara tidak membuat Yüksel menyerah. Dia menantang dan terus memberikan ceramah dan menulis artikel dan buku selama bertahun-tahun.

Şule Yüksel Şenler

Wanita hebat ini wafat

Pada usia 81, Şenler meninggal pada 28 Agustus 2019 setelah 8 bulan dirawat di rumah sakit.

Wafatnya menjadi kesedihan yang besar bagi masyarakat Turki. Perjuangan dan jasa-jasanya sungguh telah meninggalkan pelajaran besar khususnya bagi muslimah di Turki. Semoga Allah mengampuninya dan menempatkannya di Surga Tertinggi. Aamiin

Wanita yang menjodohkan Erdogan

Şenler adalah orang yang memperkenalkan Emine Erdoğan kepada calon suaminya, Presiden Recep Tayyip Erdoğan

Presiden Recep Tayyip Erdoğan mengeluarkan pesan belasungkawa saat kewafatan Şenler di Twitter, disertai fotonya dengan Şenler. “Saya belajar dengan sedih, dengan meninggalnya Şule Yüksel Şenler, seorang pelopor dalam perjuangan jilbab, seorang penulis berharga yang mengabdikan hidupnya untuk meningkatkan kesadaran di kalangan kaum muda. Semoga Allah memberkati jiwanya,” kata Erdogan.

Semoga Allah menempatkannya di barisan wanita-wanita mulia penghuni di surga tertinggi. Aamiin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here