Pria 65 tahun dengan tangan kosong menggagalkan Teroris 22 tahun bersenjata otomatis!

0

Pada 15 Maret 2019, dunia pernah dikejutkan dengan peristiwa teror tiga orang bersenjata yang melakukan pembantaian kaum muslim di Christchurch Selandia Baru. Peristiwa ini sungguh memukul perasaan kemanusiaan hampir semua orang. Bahkan sekelompok anggota Gang yang “mengerikan” di negara Kiwi itu ikut melakukan aksi solidaritas yang mengharukan.

Mongrel Mob Biker menunjukkan simpati yang mengharukan (foto: dailymail.com)
Phillip Manshaus

Namun tragedi itu ternyata tidak menggugah nurani seorang Philip Manshaus, pria kaukasus berkebangsaan Norwegia yang baru berumur 22 tahun. Pria yang ditenggarai sebagai penganut Neo Nazi akut ini pernah berusaha menirukan hal serupa seperti yang dilakukan 3 teroris Christchurch.

Masjid An Noor Islamic, Norwegia

Serangan itu terjadi pada tanggal 10 Agustus 2019 di Masjid Al-Noor Islamic Center di Bærum, Norwegia , sekitar 20 kilometer (12 mil) barat dari ibukota Oslo . Satu orang terluka, dan saudara tiri pria bersenjata itu kemudian ditemukan tewas di rumah keluarga mereka. Penembak dibawa ke tahanan polisi setelah ditundukkan oleh pengunjung masjid.

Penembak, diidentifikasi sebagai Philip Manshaus, dilaporkan mengenakan seragam dan helm ketika ia memasuki masjid, menembak jalan melalui pintu yang terkunci. Ia membawa dua senapan atau senjata “mirip senapan” dan pistol, melepaskan tembakan di ruangan itu. Prosesi sholat baru saja berakhir, dengan hanya tertinggal tiga jamaah yang sudah tua yang tersisa di masjid. 

Salah satu pria bernama Muhammad Rafiq yang sudah berusia 65 tahun, mendekati Manshaus kemudian menjepit dan menjatuhkannya dan membuang senjatanya. Keduanya bergelut, dengan Manshaus sempat melukainya. Seorang pria lain di ruangan itu kemudian memukul kepala Manshaus untuk menaklukkannya. 

Polisi dipanggil pukul 16:07 waktu setempat. Manshaus dalam keadaan terkunci karena ditindih beberapa jamaah ketika polisi tiba di masjid. 

Manshaus kemudian disidang di pengadilan dua hari setelah serangan, 12 Agustus 2019, dengan wajah dan lehernya ditandai oleh memar dan goresan.

Phillip Manshaus dengan wajah babak belur di ruang persidangan (foto: Associatepress)

Manshaus dilaporkan memulai streaming langsung Facebook beberapa jam sebelum serangannya, tetapi ini dihentikan. Benar-benar seperti yang dilakukan teroris Christchurch!

Sebelum serangan utama, dia telah mengeksekusi adik perempuannya di tempat tidurnya, dengan 3 peluru di kepala dan 1 di dada, sementara dia tertidur.  Beberapa orang lain terluka saat mencegah serangan terjadi. 

Ketika ditanya apa yang dia rasakan setelah membunuh saudara perempuannya, dia berkata, “Rasanya menyenangkan memulai.” Benar-benar gila!

Mohammad Rafiq 

Pria yang terluka itu adalah Mohammad Rafiq yang berusia 65 tahun, seorang pensiunan perwira Angkatan Udara Pakistan yang telah tinggal di Norwegia selama dua setengah tahun pada saat serangan itu. Ia sering berkunjung ke Pusat Islam Al-Noor di Bærum. Rafiq melawan Manshaus dan mengalahkannya sebelum ia bisa menyerang siapa pun di masjid, menjepitnya dan membuang senjatanya. Luka-lukanya telah digambarkan sebagai “luka minor”,  dan bukan luka tembak: itu disebabkan oleh tangan penyerang ketika ia mencoba membebaskan diri dari jepitan Rafiq. Penyerang itu juga mencoba mencungkil mata kirinya.

Muhammad Rafiq, 65 th (Foto: Reuters)

Aksi Muhammad Rafiq ini berhasil menyelamatkan banyak orang dari kemungkinan menjadi korban senjatanya Phillip Manshaus. Semoga Allah membalas usaha dan pengorbanannya. Allah berfirman, “Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (Al-Muzammil: 20)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here