Pusing? Penuh beban di pundak? Coba resep Nabi Musa ‘alaihissalam

0

Lagi galau? Atau penuh beban di pundak? Bingung… tidak tahu mau cerita ke mana? tidak menemukan solusi, dan hampir depresi? STOP! Coba cara ini, siapa tahu berhasil.

Jika Anda mengalami itu, sesungguhnya Anda tidak sendiri. Dalam kondisi krisis seperti ini, banyak dari saudara-saudara kita pun mengalami atau bahkan mungkin lebih parah dari apa yang kita alami. Kabar gembiranya, kita punya “GPS” yang selalu bisa diandalkan. Apakah itu?

Al Quran sebagai “GPS”

Inilah Al-Qur’an, road map canggih yang didesain sebagai tuntunan hidup. Menyinari terang gelapnya emosi kita, mewarnai pernak-pernik bahagia kita, serta tidak lupa memberikan hadiah solusi untuk setiap masalah kita.

Nah, bicara masalah hidup, tentu banyak ragamnya, tiap orang memiliki varian yang berbeda … ada yang levelnya ringan, adapula yang berat, lalu bagaimana Al-Qur’an memberi guide line pada kita?

Belajar dari kisah Nabi Musa.

Siapa yang tidak kenal Nabi Musa ‘alaihissalam? Manusia mulia yang diberi mandat khusus oleh Allah, yakni untuk membimbing Bani Israil. Sosok tampan berotot baja, mengantongi keberanian luar biasa. Tak gentar bertitah pada Si Zalim Firaun, yang berlagak tuhan.

Kisahnya dimulai dari Kota Memphis. Ketika itu beliau (Nabi Musa ‘alaihissalam) melihat adanya sebuah pertikaian. Pertikaian antara seorang dari kaumnya dengan tentara Firaun. Tak ayal, kaumnya itu meminta bantuan pada Musa ‘alaihissalam. Maka kemudian, Nabi Musa ‘alaihissalam pun meninju musuhnya, tak berselang lama matilah tentara Firaun tersebut.

Pasca kejadian itu, Nabi Musa ‘dihantui’ ketakutan serta kegalauan akibat perbuatannya. Lisannya terus meluncurkan doa memohon ampunan. Maka beristighfarlah Musa.

Anjuran Hijrah

Kemudian datanglah seorang laki–laki dari ujung kota, bergegas mengingatkan Musa untuk segera hijrah, karena kabarnya Firaun sedang menyusun makar untuk membunuhnya.

Masih dibanjiri aura rasa takut, juga khawatir tersusul Firaun, Musa pun hijrah menuju Madyan. Sampailah ia di sebuah mata air. Lalu, dilihatnya sekumpulan manusia sedang memberi minum ternaknya. Dan terlihat juga dua orang perempuan menahan ternaknya. Heran dengan kejadian itu, Musa kemudian bertanya, “Kenapa kalian menahan ternak itu?

Keduanya pun menjawab, “Kami tidak dapat memberi minum ternak ini, sampai kerumunan itu pergi. Dan Ayah kami sudah tua, maka kami menggantikan tugasnya.”

Tanpa pikir panjang, bergegas Nabi Musa menarik ternak milik kedua perempuan tersebut, lalu membantu memberikan minum pada ternak tersebut.

Singkat cerita, setelah selesai memberi minum ternak milik kedua perempuan tersebut, tanpa meminta imbalan atau menunggu ucapan terima kasih, Nabi Musa pun berlalu. Beliau kembali berteduh dan menyendiri. Lalu, dengan hati yang masih diselimuti kegalauan, terucaplah untaian doa nan mashur itu.

فَسَقَىٰ لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّىٰٓ إِلَى ٱلظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّى لِمَآ أَنزَلْتَ إِلَىَّ مِنْ خَيْرٍۢ فَقِيرٌۭ

Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.” (QS Al Qashash ayat 24)

Rabbi inni lima anzalta ilayya min khairin faqir.

Inilah harap penuh makna, doa penuh cinta, yang dicontohkan Musa pada kondisi genting, fakir serta membutuhkan pertolongan.

Gambaran “Kegalauan” Nabi Musa

Kita tahu betul, kala itu Nabi Musa statusnya sebagai buronan Firaun. Meski berhasil lolos, kegalauan akan tersusul tentara Firaun menjadi momok tersendiri. Apalagi kesalahan masa lalunya bukanlah hal sepele. Bagaimana mungkin bisa tenang, jika terlanjur membunuh pagar betisnya Firaun, tentara yang ditakuti seantero Mesir. Meski Musa tidak sengaja melakukannya, tapi peristiwa itu tetap menjadi beban psikologis tersendiri, yang tak mudah ditepikan. Kondisi itu mau tak mau, suka tak suka, membawa Musa berada di titik terendah hidupnya.

Ya! Musa sejatinya merasakan lapar, Musa memerlukan tempat berteduh, Musa butuh perlindungan alias jaminan hukum, Musa juga menginginkan pekerjaan yang menghasilkan. Namun uniknya dalam doa yang dipanjatkannya pada Allah, Nabi Musa tak menyebutkan beragam permintaan secara tersurat. Padahal saat itu nyawanya terancam, hatinya galau, fisik lelah, tiada tambatan jiwa. Bisa dikatakan fakir sandang, pangan, dan papan.

Tidak ada keluh kesah

Kita tahu, betapa lengkap penderitaan Musa. Tapi coba lihat sekali lagi doa Nabi Musa tersebut, di dalam doanya tiada sedikitpun keluh kesah, aduan, juga pinta, melainkan berupa pengakuan kesejatian hamba yang sungguh membutuhkan anugerah-Nya

رَبِّ إِنِّى لِمَآ أَنزَلْتَ إِلَىَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِير

Rabbi inni lima anzalta ilayya min khairin faqir.” [Al – Qasas: 24]

Artinya: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku”

Dalam tafsir Al Muyassar diterjemahkan: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku kepada suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku” Kebaikan apapun itu. فَقِيرٌ(sangatlah memerlukan) Yakni membutuhkan hal itu.

Makna Mendalam Doa Nabi Musa

Jadi, apa makna sejati yang terdapat pada doa tersebut? Inilah rahasia yang diungkap oleh Ustad Nouman Ali Khan:

ILMU IKHLAS
Kita flash back pada peristiwa di Madyan, setelah Nabi Musa membantu memberi minum ternak. Ia kemudian memanjatkan doa ini dalam kesendirian. Satu pelajaran penting yang bisa dipetik; ilmu ikhlas. Tak perlu nunggu ucapan terima kasih atau imbal jasa dalam membantu orang lain. Jika niat kita murni karena Allah, berharap hanya pada Allah, maka Allah akan memberi yang lebih dari apa yang kita bayangkan.

ILMU SYUKUR
Jika kita perhatikan makna tersurat dari lafaz doa tersebut, maka akan kita dapatkan; ilmu syukur. Ustad Nouman menjelaskan dengan detail tentang makna ‘anzalta’, yang memiliki arti, “Apa saja yang sudah Engkau berikan.” “Sungguh aku teramat butuh Ya Allah, karena itu, maka aku syukuri. Terserahlah apapun bentuknya Ya Allah.”

Nabi Musa seolah melakukan bincang mesra rasa syukurnya pada Allah. Syukur akan nikmat mata air yang menghilangkan dahaga, memiliki naungan pohon nan teduh serta kesempatan berbuat baik pada sesama. Itu semua cukup membuat dirinya pandai berterima kasih.

Just remember this: try to have a different attitude, like Musa – he is constantly thinking about what he has to be grateful for. – Nouman Ali Khan

Ingatlah ini: Cobalah untuk memiliki sikap yang berbeda, seperti Musa ‘alaihissalam – Dia terus menerus berfikir apa yang harus disyukuri

Ilmu Taubat
Masih ingat kesalahan Nabi Musa di Memphis? Nabi Musa membunuh seorang tentara Firaun. Meski telah memohon ampun pada Allah, Nabi Musa masih merasa bersalah, ia belum tenang, masih galau. Maka ia kemudian mencari kesempatan untuk berbuat amal kebaikan. Kebaikan yang diharapkan bisa menutupi kesalahan masa lalunya. Maka ilmu taubat itu intisarinya. Terima kasih Allah untuk kesempatan membantu kedua perempuan tersebut.

Masya Allah… Begitulah hikmah dari doa Nabi Musa. Semua terangkum jernih membentuk tutur santun pada Rab-Nya. Dengan kata lain, sebelum meminta lebih pada Allah, Nabi Musa fokus bersyukur terlebih dahulu atas segala nikmat yang telah Allah anugerahkan padanya.

Inilah teladan manusia agung nan pandai bersyukur. Bukankah ketika kita bersyukur, Allah akan tambahkan nikmat-Nya kepada kita?

Hikmah dari Doa Nabi Musa ‘alaihissalam

Dari doa visioner salah satu Rasul Ulul Azmi tersebut, hikmah apa yang bisa kita petik?

HIKMAH MATERI
Doa tulus itu, yang dipanjatkan Musa setelah membantu memberi minum ternak, ternyata diijabah Allah dengan limpahan Rahmat-Nya. Tak hanya diundang jamuan makan sang Ayahanda kedua perempuan yang ditolongnya tadi. Musa juga mendapatkan upah meminumkann ternak, bahkan ditawarkan menjadi mantu untuk disandingkan dengan salah satu putri terbaiknya. Maka menikah itulah rezekinya Musa. Dan yang paling puncaknya nih, Nabi Musa dipercaya memimpin bisnis peternakan sang Ayahanda.

HIKMAH RUHANI
Menjadi lebih sabar, lebih tenang, optimis bahwa selalu akan ada jalan insya Allah akan menjadi buah dari doanya Nabi Musa ‘alaihissalam. Dan itulah yang menjadikan Nabi Musa ‘alaihissalam termasuk salah satu dari 5 nabi dengan gelar ulul ‘azmi, sebuah gelar khusus bagi golongan rasul pilihan yang mempunyai ketabahan luar biasa dengan banyak keutamaan.

Masya Allah, ternyata inilah rahasia suksesnya Nabi Musa. Inilah resep doa anti galaunya Musa ‘alaihissalam.

Sepertinya kita harus memasukkan doanya Nabi Musa ‘alaihissalam dalam barisan doa yang selalu dipanjatkan, khususnya dalam masa sulit seperti ini.(Sumber)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here