Saat Wabah Black Death di Eropa, Bagaimana Kondisi Dunia Islam saat itu?

0
Sultan Orkhan bin Utsman (Wikipedia)

Saat puncaknya wabah dahsyat penyakit Pes melanda Eropa tahun 1347 hingga 1351, dunia Islam saat itu dipimpin oleh Sultan Orkhan bin Utsman. Beliau adalah khalifah kedua dari kekhalifahan Turki Utsmani setelah pendirinya yaitu Utsman bin Ertugrul. Apa yang terjadi di masyarakat muslim khususnya di sekitaran kekhalifahan Utsmani dan Timur Tengah yang saat itu sudah lama menjalin kontak dengan Eropa?

Menurut sebuah teori, justru masyarakat muslim di timur tengah lebih dulu terkontaminasi penyakit ini sebelum Eropa. Virus/bakteri ini terbawa saat kaum muslim terlibat aktif dalam perdagangan dalam jalur sutra.

Wabah ini melanda berbagai daerah di Timur Tengah selama pandemi, yang menyebabkan depopulasi (berkurangnya penduduk akibat kematian) serius dan perubahan permanen dalam struktur ekonomi dan sosial. Wabah ini diduga menyebar dari Cina dengan terbawa oleh orang-orang Mongol ke sebuah pusat perdagangan di Krimea, yang disebut Kaffa, dikendalikan oleh Republik Genoa. Tikus-tikus yang terinfeksi menginfeksi tikus baru, penyakit ini menyebar ke seluruh wilayah, termasuk Afrika Selatan juga masuk dari Rusia selatan. Pada musim gugur 1347, wabah itu mencapai Aleksandria di Mesir, melalui perdagangan pelabuhan dengan Konstantinopel , dan pelabuhan-pelabuhan di Laut Hitam.

Ilustrasi dari forbes.com

Bahkan wabah ini juga sempat melanda jemaah haji yang berniat beribadah ke Mekah dan Madinah!

Al-Suyuṭi, salah satu penulis paling produktif dalam sejarah Islam, tinggal di Mesir selama tahun-tahun di akhir-akhir Kesultanan Mamluk. Dia menulis ratusan karya tentang berbagai topik, dari Alquran dan hadits hingga geografi, leksikografi, dan kedokteran, dan mengeluarkan banyak tulisan tentang hukum islam. Karya-karyanya disalin berulang kali dan kemudian dicetak dalam berbagai edisi. Karena wabah pernah melanda Mamluk Mesir, al-Suyuti menulis risalah tentang asal-usul, transmisi, dan respons yang sesuai untuk wabah ini. Bukunya Ma rawahu al-wa’un fi akhbar al-ṭa’un, sebuah ringkasan dan penjelasan dari karya Ibnu Hajar, salah satu ulama yang dikagumi al-Suyuṭi dari generasi sebelumnya, tentang wabah badhl Surah Al-Ma’un fi fadl al-ṭa’un.   

,Ilustrasi Imam As Suyuthi (Wikipedia)

Diangkatnya teori dan ide-ide Ibnu Hajar tentang suatu wabah oleh Al-Suyuṭi memiliki respon yang besar, setidaknya di antara kelas-kelas terdidik di Mesir dan dunia Muslim. Di ma rawahu , al-Suyuṭi menerima pendapat Ibnu Ḥajar. Dia menyamakan kematian akibat wabah dengan kematian seorang syahid dalam pertempuran, dan berpendapat bahwa orang yang selamat dari wabah dan orang yang meninggal karenanya akan diberi pahala. 

Al-Suyuṭi mengutuk orang yang keluar dari wabah, dengan alasan bahwa Nabi pernah melarang ‘Amr ibn al-‘As (wafat 664) untuk pelariannya dari wabah di Suriah. Dalam bagian kecil ia menceritakan tentang kemungkinan wabah yang terjadi di Mekah dan Madinah, ia lebih jauh menggarisbawahi penolakannya terhadap gagasan penularan. Mengutip beberapa keterangan kenabian tentang masalah ini, ia menyimpulkan dengan kutipan dari Nabi: “Al-Madinah dan Mekah dikelilingi oleh para malaikat, ada malaikat di setiap gerbang, dan para penipu dan wabah tidak bisa masuk”. Sehingga ia berpendapat seandainya itu terjadi maka itu karena murka Allah disebabkan dosa dan kesalahan umat islam sendiri. Bukan karena penularan.

Semoga kita dibimbing Allah dalam menemukan solusi untuk wabah yang saat ini sedang melanda. Allah berfirman dalam Al Baqoroh 155, “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”

Sumber: wikipedia, Jurnal The Black Death and the Rise of the Ottomans Cambridge University, dan lain-lain)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here