Seluruh Isi Al Quran ini Ditulis dengan Darah Manusia

0

Dibutuhkan sekira 27 liter darah segar manusia untuk menulis 605 halaman Al Qur’an yang terdiri dari 114 Surat itu. Yang mempunyai ide itu tak lain adalah Saddam Hussein, mendiang Presiden Irak yang dihukum mati pada 30 Desember 2006.

Ia mengumpulkan darahnya sendiri secara bertahap sebagai pengganti tinta. Dibutuhkan sekira 2 tahun, dimulai dipenghujung tahun 1990an, untuk darah sebanyak itu.

Saddam Husein saat menjalani Sidang

Saddam mengenalkan salinan Al Quran itu pada tahun 1997 pada ulang tahunnya yang ke-60. Ia mengaku ini sebagai syukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala, karena telah membantunya melalui banyak “konspirasi dan bahaya”.

Hidup saya penuh dengan bahaya di mana saya seharusnya kehilangan banyak darah … tetapi karena saya hanya sedikit berdarah, saya meminta seseorang untuk menulis firman Tuhan dengan darah saya sebagai rasa terima kasih”, demikian alasan Saddam Hussein.

Ruang pamer salinan Al Quran yang ditulis dengan darah Saddam Husein di Masjid Umm al-Ma’arik Baghdad

“Hidup saya penuh dengan bahaya di mana saya seharusnya kehilangan banyak darah … tetapi karena saya hanya berdarah sedikit, saya meminta seseorang untuk menulis firman Tuhan dengan darah saya sebagai rasa terima kasih”- Saddam Hussein

Ditulis oleh Kaligrafer Muslim Amerika

Buku ini diproduksi oleh Abbas Shakir Joudi (Joody), seorang kaligrafer Islam yang sekarang tinggal di Virginia di Amerika Serikat. Menurut Abbas Shakir, selama dua tahun, Saddam menyumbangkan 24-27 liter (50 hingga 57 gelas) darahnya, yang digunakan oleh Joudi untuk menyalin 6.000 ayat dan sekitar 336.000 kata Alquran. 

Menurut Joudi, Saddam Hussein memanggilnya ke rumah sakit Ibn Sina di Baghdad, di mana putranya Uday baru pulih dari upaya pembunuhan, dan Saddam memintanya untuk menulis Al-Qur’an dari darahnya sebagai “semacam sumpah versi Saddam”.  

Pekerjaan itu diserahkan kepada Shakir dalam sebuah upacara pada bulan September 2000. Salinan Al Quran itu kemudian dipajang di masjid Umm al-Ma’arik (Mother Of All Battles) di Baghdad, yang didirikan oleh Saddam untuk memperingati Perang Teluk 1990-91 dan dirancang dengan menara-menara dalam bentuk misil Scud dan laras senapan Kalashnikov.

Masjid Umm Al Ma’arik (Foto: Scott Petterson/Getty)

Al-Qur’an Darah ditampilkan di sebuah bangunan marmer heksagonal yang terletak di danau buatan di dalam kompleks masjid. Hanya pengunjung yang diundang yang dapat melihatnya, karena bangunan itu biasanya terkunci dan terlarang. Menurut jurnalis Australia Paul McGeough, yang melihat satu halaman dari Al-Qur’an Darah, “huruf darah setinggi sekitar dua sentimeter dan batas dekoratif yang luas menyilaukan – biru, terang dan gelap; bintik-bintik merah dan merah muda; dan sorotan berputar-putar dalam warna hitam. “(The Guardian).

Martin Chulov menggambarkannya sebagai ‘sebuah buku indah dibuat yang akan mengambil tempatnya di setiap pameran seni -. Jika bukan karena fakta bahwa itu ditulis dalam darah‘.

Artefak Sejarah Yang Membingungkan Pemerintah

Setelah wafatnya Saddam Husein, pihak berwenang di baghdad sempat bingung dengan peninggalan ini. Di satu sisi ini adalah artefak atau peninggalan bersejarah bangsa Irak, di sisi lain, beberapa ulama mengharamkan penulisan Al Quran dengan darah tersebut.

Bahkan ulama Syiah berharap tidak ada satupun peninggalan Saddam Husein tertinggal di Irak. Meraka berharap semuanya dipindahkan atau dihancurkan.

Namun juru bicara perdana menteri Irak, Nour al-Maliki, menggarisbawahi dilema ini dengan mengatakan, “Tidak semua yang dibangun selama rezim ini harus kita hapus. Namun ada beberapa patung yang hanya tentang kediktatoran dan kontrol atas Irak. Beberapa berbicara untuk diktator dan pertempuran, dan mereka harus dipindahkan. Mereka memiliki makna etnis dan sektarian.

Diragukan Ditulis dengan Darah Secara Keseluruhan

Sempat muncul keraguan apakan keseluruhan Al Quran itu ditulis dengan darah Saddam sendiri. Berapa banyak sesungguhnya darah yang diperlukan untuk menulis sebanyak itu hanya dari satu orang pendonor.

Reporter Philip Smucker (Telegraph) melaporkan di Baghdad pada 29 Juli 2001; “Yang paling mencolok adalah klaim yang meragukan dan sama sekali tidak dapat diverifikasi bahwa Saddam menyumbangkan hampir 50 liter darahnya sendiri untuk penulisan Al-Qur’an.” Smucker juga menulis: “Para diplomat Barat yang bermarkas di Baghdad tidak terkesan dengan (bentuk) pengabdian agama pemimpin Irak itu, menolak masjid dan kitab sucinya yang ditulis dengan darah sebagai aksi publisitas yang kasar. ‘Bagaimana kita bisa yakin ini adalah darah Saddam dan tidak dari beberapa korbannya? ‘ seseorang (pejabat) bertanya. “

Keraguan juga muncul bahwa itu sebagian dicampur dengan bahan kimia dan tinta, tidak semuanya adalah darah segar.

Dan seluruh keraguan itu semuanya tidak dapat dikonfirmasikan dan masih dapat diperdebatkan, dan sulit untuk menjawab pertanyaan karena orang-orang terdekat Saddam juga ikut terhukum mati. Sedang penulis (kaligrafer) tidak tahu menahu tentang sumber darah.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here