Ternyata Bukan Sistem Pendidikan Online yang Efektif saat Pandemi, Tapi Sistem ini!

0

Menteri Pendidikan, Nadiem Makarim, dalam satu kesempatan pernah menyatakan akan memberlakukan sistem pembelajaran online secara permanen, mengingat sistem inilah yang memungkinkan agar anak-anak Indonesia terus mendapat pelajaran di masa wabah covid yang belum pasti kapan akan berakhirnya.

Sepintas, sepertinya inilah satu-satunya solusi dimana disaat wabah penjarakan sosial (Social Distancing) menjadi keharusan. Namun setelah sekian waktu berjalan, beberapa pemerhati pendidikan melihat celah kekurangan yang bahkan bisa tergolong berbahaya jika tidak segera dicari antisipasinya.

Yang Hilang dari Sistem Pembelajaran Daring

Ada beberapa elemen dasar pendidikan yang hilang dalam sistem pembelajaran online, yang mana hal ini justru menjadi jiwa pendidikan itu sendiri. Hal-hal yang hilang itu diantaranya:

  1. Pelajaran Adab
  2. Pendidikan kedisiplinan
  3. Pembentukan Karakter
  4. Pengawasan dan kontrol
  5. Rasa Keterikatan dengan Almamater
  6. Penghormatan terhadap guru
  7. Pembentukan sistem miliu
  8. dan beberapa hal lain.

Hal-hal di atas akan tidak efektif atau bahkan hampir mustahil dididikkan secara optimal kepada anak-anak secara daring. Beberapa pendidikan seperti adab, disiplin, miliu dan lain-lain memerlukan kedekatan sosial secara fisik dan visual.

Sempat disampaikan juga bahwa beberapa poin di atas diserahkan kepada para orangtua dalam pelaksanaannya. Namun ini tentu bukan solusi instan. Sebab orangtua pun tidak memiliki kemampuan yang sama baik dalam ilmu, waktu, dan kesempatan.

Lalu sistem pendidikan yang bagaimana yang efektif disaat wabah seperti ini? Pesantren atau istilah lainnya boarding School atau sistem asrama.

Apa itu Sekolah Sistem Asrama?

Sekolah sistem asrama atau boarding school atau pesantren (modern) adalah sistem sekolah dimana semua siswa dan tenaga pendidik berada dalam satu lokasi dimana disana diadakan proses belajar mengajar, tempat tinggal dan segala aktifitas yang menunjang.

Sudah sejak lama diketahui bahwa pendidikan sistem asrama memiliki beberapa keunggulan dalam mencetak alumni-alumni berkarakter. Dan tentu dengan kelebihan serta kelemahannya.

Sistem pendidikan ini dipergunakan oleh jawatan atau instansi yang ingin mencetak kader-kader yang sejalan dengan tujuan pendidikan itu sendiri. Militer, Kepolisian, sekolah-sekolah ikatan dinas, dan tentu juga pesantren-pesantren sudah dari lama mengadopsi sistem ini.

Dan terbukti mereka memiliki lulusan-lulusan yang bisa dikatakan sejalan dengan tujuan pendidikan instansi/lembaga/instituso itu sendiri.

Terlepas dari kelebihan dan kekurangannya, namun diakui lulusan-lulusan AKABRI, AKPOL, IPDN, dan juga PESANTREN-PESANTREN terbukti memiliki kualitas karakter, kedisiplinan, kemampuan dibidangnya dan juga sejalan dengan lembaga/institusinya itu sendiri, lebih baik dari sistem pendidikan lain.

Bagaimana Sekolah Sistem ini Menghadapi Wabah

Untuk menjelaskan ini, bisa diambil contoh salah satu pesantren besar di Jawa Timur, Gontor.

Gontor telah menerapkan sistem lockdown di kampusnya jauh sebelum wabah ini menjadi masalah yang besar di Indonesia. Sistem lockdown pondok ini membuat semua santri dan para ustadz terlarang keras untuk melakukan kontak sosial (Kecuali untuk suatu kepentingan yang tidak ada subtitusinya). Wali santri terlarang untuk hadir, sempat beberapa saat bahkan paket dan wesel pun dihentikan (walau kemudian berlaku lagi namun dengan protokol kesehatan yang benar).

Aktifitas di Gontor saat Wabah

Pendisiplinan sangat mungkin dilakukan tanpa kecuali karena diiringi dengan sanksi tegas jika terjadi pelanggaran. Kontrol dan pengawasan juga bisa dilaksanakan dengan baik karena semua elemen pondok terawasi secara visual. Begitupun disaat santri libur, dibuat perjanjian yang ditandatangani untuk tidak melanggar protokol kesehatan. Dan terbukti santri-santri lama alhamdulillah saat kembali ke pondok tidak ada yang terinfeksi.

Dan ketika saat penerimaan santri baru, diatur sedemikian rupa agar tidak terjadi kontak yang berlebihan. Walau kemudian ada beberapa santri baru “terindikasi” terinfeksi, protokol kesehatan bisa dengan segera dilaksanakan dengan baik seperti karantina, perawatan dan lain-lain.

Ditambah lagi, sistem seperti ini membentuk keterikatan alumni kepada almamaternya yang sangat kuat. Terbukti alumni-alumni yang telah menjadi tenaga kesehatan dan dokter turut membantu memberikan solusi, sedang alumni lain memberi bantuan alat-alat kesehatan seperti alat Test PCR dan lain-lain.

Hampir serupa dialami oleh Sekolah Calon Perwira Kepolisian di Sukabumi, sempat diindikasikan beberapa siswanya terindikasi terinfeksi, namun karena semua dalam pengawasan secara langsung, maka penangannya menjadi efektif, terbukti dengan tidak ada kasus lebih lanjut.

Kepala Staf TNI AD, Jenderal Andika Perkasa, saat mengunjungi 1280 Siswa Secapa TNI AD yang terinfeksi Covid 19

Demikian juga sekolah calon Perwira TNI AD di Bandung yang baru-baru ini terindikasi seribu lebih siswanya terinfeksi virus corona, namun penangannya menjadi lebih efektif dan efisien karena semua dalam pengawasan dan disiplin yang ketat.

Kesimpulan

Walau diakui tidak ada yang sempurna dalam sesuatu yang direkayasa manusia, namun melihat kemampuannya sebagai solusi, maka sistem pendidikan asrama saat ini lebih efektif dalam banyak hal dibanding sistem pembelajaran secara daring. Walau bukan berarti juga tidak ada yang positif sama sekali dari sistem daring tersebut.

Namun, sebagaimana tujuan pendidikan nasional yang bukan hanya berorientasi pengajaran semata namun juga melingkupi pendidikan dan keterampilan, maka jika sistem daring “sudah terlanjur dan terpaksa” dijalankan maka harus segera dicari solusi agar beberapa komponen pendidikan tidak hilang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here